Keadaan Kampung Nelayan 1924 Majene. Picture Courtesy of: https://sultansinindonesieblog.wordpress.c

Opini Pariwisata Kota Tua Majene

Kota Tua, Solusi Pariwisata Majene

  

KOTA TUA, SOLUSI PARIWISATA MAJENE

Oleh : Mursidin, A.Md.Par.SS.

“jika pemahaman pembangunan Pariwisata hanyalah menghancurkan yang lama dan membangun yang baru, maka pembangunan (pariwisata) Majene sebaiknya dihentikan..”

Ada banyak pemahaman dan definisi mengenai Industri Pariwisata, namun ringkasnya Pariwisata ialah segala efek, atau impact yang terjadi karena adanya perjalanan. Jika anda melakukan perjalanan ke Jakarta misalnya apapun tujuannya, anda akan butuh the basic needs in travelling: transport, akomodasi, dan Makanan, serta  kebutuhan lanjutan seperti kenyamanan, hiburan dan lain lain, industry yang memenuhi semua inlah disebut industry Pariwisata.

Di Indonesia tujuan Pariwisata ada beberapa poin, hal ini bisa dilihat di UU no. 10 th 2009 tentang kepariwisataan. Sementara ditinjau dari aspek bisnis Pariwisata , tujuan utama pariwisata adalah meningkatkan ekonomi daerah tujuan wisata setempat, khususnya keadaan ekonomi masyarakat di sekitar objek wisata. Berarti Pariwisata adalah Tool (alat) untuk kesejahteraan masyarakat, yang membedakannya dengan industry lain adalah pariwisata berurusan langsung dengan Manusia (directly dealing with people).

Ukuran keberhasilan Pariwisata

Banyak daerah yang mengukur keberhasilan pariwisata melalui tercapai tidaknya target PAD yang dibebankan, padahal target PAD biasanya jauh lebih rendah daripada BEP (Break even point) biaya atau dana yang sudah dikucurkan untuk pengembangan Pariwisata daerah. Cara yang paling mudah mengukur keberhasilan Pariwisata suatu daerah ialah dengan mengukur berapa banyak pengangguran yang mendapatkan pekerjaan karena Pariwisata, berapa banyak masyarakat yang meningkat keadaan ekonominya karena industry ini, khususnya masyarakat di sekitar objek wisata. Jika hanya hanya melihat hitungan di atas kertas, atau dengan banyaknya event suatu daerah, niscaya akan jauh dari realita keberhasilan pariwisata suatu daerah.

Kondisi  Pariwisata Majene

Ada pemahaman yang keliru mengenai Pariwisata di daerah ini, banyak yang berfikir bahwa keberhasilan Pariwisata Majene adalah tanggung jawab penuh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, padahal Pariwisata suatu daerah akan berkembang jika semua Stakeholder Pariwisata duduk bersama merencanakan, berbagi tugas, dan sama mengikuti garis besar Perencanaan Pengembangan Pariwisata daerah. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dalam hal ini kadang terlihat seperti beberapa pemain bola di barisan gelandang yang hanya terus berputar di Lapangan tengah tanpa menghasilkan gol. Adapun stakeholder Pariwisata yang dimaksud  mulai dari  Bupati, DPRD, semua OPD, komunitas masyarakat khususnya di daerah sekitar objek wisata, masyarakat,  semuanya harus duduk bersama, ini seperti musrembang khusus untuk Pariwisata, namun diikuti semua SKPD dan stakeholder lainnya, mereka harus merencanakan merumuskan pembangunan Pariwisata Jangka pendek, menengah dan panjang . Dan jika rumusan pembangunan Pariwisata ini sudah ada, sosialisasi dan eksekusinya benar benar harus dilaksanakan

Majene sebagai KPPN

Dalam PP no.50 tahun 2011 tentang Rencana induk pengembangan Pariwisata Nasional 2010-2025, Majene  termasuk  satu dari 250 daerah Kawasan Pembangunan Pariwisata Nasional, artinya secara nasional Majene diakui mempunyai potensi pariwisata yang sangat besar. Selain alamnya yang memang Indah, garis Pantai yang panjang. Kebudayaan Majene juga sangat menarik, dan salah satu hal yang menarik  untuk dikembangkan ialah mengembalikan Estetika Majene sebagai ibukota Afdelling Mandar, Kota Tua Majene.

Kota Tua Majene, solusi Pariwisata Majene

Ide ini bukan hal yang baru, dari dulu banyak teman teman yang menyuarakannya, khususnya komunitas budaya dan kesenian. Majene  mempunyai sejarah yang panjang, dan kebanyakan lokasi lokasi objek sejarah ini berada tidak jauh dari kota, bahkan banyak yang berada di tengah kota. Selain situs situs sejarah dari kerajaan, di zaman Kolonialisme, administrasi pemerintahan Belanda banyak membangun dan mewariskan banyak bangunan bersejarah. Namun sayangnya banyak yang terbengkalai bahkan dihancurkan. Jika Pemahaman pembangunan fisik hanyalah menghancurkan yang lama dan membangun yang baru, maka pembangunan (pariwisata) majene sebaiknya dihentikan dulu,, sebelum semuanya habis tidak tersisa. Ada banyak bangunan maupun situs yang seharusnya bisa dijaga, dilestarikan dan dijadikan objek wisata kota tua yang dapat mendatangkan wisatawan dan menunjang ekonomi setempat. Dan biaya untuk tidak menghancurkan ini jauh lebih murah daripada harus membangun yang baru.

Dalam Pengembangan pariwisata, kita juga tidak melulu harus focus ke daerah kita sendiri, kota kota lain yang juga berusaha meningkatkan industry pariwisatanya ialah competitor kita. Dalam berkompetisi, harus ada branding yang kuat mengenai Pariwisata Majene. Jika berfokus membangun Majene dengan brand Waterfront city misalnya, sangat banyak kota kota lain yang melakukan hal yang sama, reklamasi, relokasi besar besaran yang akan banyak menelan biaya dan bahkan menuju konflik. Sementara untuk berada di bagian terdepan di Industri Pariwisata, suatu daerah harus mempunyai hal yang berbeda dari kota kota lain. Branding kota Tua Majene sebagai  satu satunya ibukota Afdelling Mandar di dunia tanpa mengesampingkan pembangunan pariwisata yang telah dibangun, pembangunan suatu kawasan kota Tua di Majene akan menjadi tulang punggung pariwisata Majene.

Secara tekhnis, ide Kota Tua ini mungkin dapat dimulai dengan Festival Kota Tua sebagai pemicu memori kita akan Kota Tua dan Edukasi Pariwisata bagi Masyarakat. Setelah itu dibutkanlah suatu  kawasan kota tua yang tidak harus mencakup seluruh kota Majene, misalnya menjadikan kawasan di sekitar taman kota menjadi kawasan kota tua, dimana bendi/dokar dihidupkan kembali, mungkin dengan bantuan subsidi Pemkab agar para delman dapat menutupi biaya operasional mereka. Setidaknya Bendi menjadi alat transportasi bagi para turis. Di kawasan ini juga dapat dibangun monumen monumen sejarah mulai dari kejadian di zaman kerajaan Kerajaan Mandar maupun peristiwa monumental lainnya di zaman penjajahan. Di Majene dan Sulawesi Barat secara umum terdapat banyak ahli ahli sejarah dan budaya yang dapat menjadi acuan dalam pengembangan kawasan kota tua Majene yang insya Allah pada ujungnya dapat menjadi branding Majene, ‘ingin mengetahui keadaan 100 tahun lalu?? Kota Tua Majene jawabnya’. 

Festival Kota Tua Majene, Mengasah Akal Sejarah

  

Meskipun Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC)memulai penguasaan dan monopoli perdagangan di wilayah nusantara pada abad ke 17 seperti melalui penguasaan pelabuhan di Makassar dan perjanjian dengan raja-raja Bugis dan Makassar, baru pada awal abad 20 (1905) Pasukan Belanda menjejakkan kaki di Tanah Mandar dengan tujuan memperluas penguasaan, monopoli dan Kontrol di wilayah nusantara.

Menurut laporan tahunan dr. Kaiser yang dokumen aslinya masih terdapat di Museum Mandar Majene, dokter pertama yang ditugaskan di wilayah Afdelling Mandar ini menjelaskan bahwa pada saat itu  pembentukan pemerintahan Belanda dimulai pada tahun 1907,  tahun ini pemerintahan sipil  dimulai. Bagian bagian dari agendanya ialah administrasi, pembangunan Jalan, infrastruktur air, pendidikan, dan tentu tak lupa juga pelayanan kesehatan dan pembentukan layanan kesehatan publik. Maka pada awal dekade kedua (1920an) atau kurang lebih 100 tahun yang lalu, rumah sakit pertama di tanah Mandar didirikan. Pada saat itu Wilayah Afdeling  Mandar dibagi menjadi 2 Sub Wilayah:

1. Madjene dan Binoeang bawah (Pesisir)

2. Binoeang Atas dan Pitu Oelonna Salo (pegunungan)

Dengan Majene sebagai ibukota Afdelling Mandar. Jumlah populasi di wilayah pertama sekitar 124.258 jiwa, dan di wilayah kedua sekitar 28.070 jiwa, sehingga total populasi Mandar pada saat itu 152.328 jiwa. Sedang rasio kepadatan penduduk tumbuh 3 % di wilayah pertama dan berkurang 3 % di wilayah pegunungan. Suku Mandar dan Toraja umumnya menempati kedua wilayah ini. Daerah pesisir umumnya ‘Mohammadean’ (terminology yang digunakan dalam menyebut pengikut Muhammad pada saat itu, kata ini tidak berafiliasi dengan organisasi Muhammadyah sekarang ini), sedangkan masyarakat pegunungan umumnya animism atau menyembah banyak Tuhan, sementara kristiani (Protestan) berada di wilayah Tawalijan dan Mohammadean berada di distrik Mambie.

Masih dalam laporan yang sama, disebutkan bahwa Madjene adalah kota utama wilayah ini. Sebanyak 7 (tujuh) perusahaan pelayaran  berlabuh di sini, dan inilah alat transportasi yang digunakan pemerintah colonial bersama 3 brigade militer dan seorang dokter. 2 unit sekolah juga terdapat di sini dan pasar tradisional yang setiap harinya ramai dikunjungi. Terdapat juga 40 Pedagang asal China yang berdagang di sini, mengekspor kopra, kapok, dan ikan kering. Madjene juga dikelilingi 2 rawa air setengah asin. Bagian terbesar dari rawa ini disebabkan oleh pembangunan jalan raya/utama terlepas dari pengaruh air pasang dan perkembangan yag didukung oleh “nipa nipa”. Kota Madjene pada saat itu digambarkan sangat indah akan konstruksi selokan selokan semennya, dengan air yang mengalir dari pegunungan di sekelilingnya.

Dari gambaran di atas dapat dibayangkan betapa Indahnya kota Majene pada saat itu, selain alamnya yang alami, tertata rapi, bangunan dan situs situs sejarah peninggalan kerajaan kerajaan yang pernah ada di Tanah Mandar masih sangat terawat.

Gambaran Majene yang diuraikan di atas tentu saat ini tidak terlintas di benak masyarakat Mandar, khususnya generasi Milenial. Untuk itu diperlukan adanya pemicu akal sejarah Masyarakat Mandar, salah satunya dengan mengadakan Festival kota Tua yang akan menjadi edukasi Pariwisata dan Budaya, sekaligus sebagai cikal bakal dijadikannya branding Majene sebagai ex ibukota afdelling Mandar yang dalam kenyataannya hanya ada satu di dunia. 

Jika Festival Kota tua Majene diadakan, ini akan memicu kesadaran kita akan Sejarah panjang di wilayah Mandar, khususnya Majene. Kegiatan ini juga dapat menjadi awal dari pembangunan Pariwisata Majene melalui pembangunan Kawasan Kota tua, di mana masyarakat dan wisatawan dapat menyaksikan dan menikmati estetika ibukota Afdelling Mandar 100 tahun yang lalu.

      

Semoga Festival kota tua Majene kelak bisa menjadi pembelajaran sejarah bagi generasi muda, yang mengasah akal sejarah kita dan menjadi bagian dari Pariwisata Edukasi dan Ikon Pariwisata Majene.